Bahasa cinta atau love language tentu bukan sesuatu yang asing di telinga ya, Ma. Mungkin, saat ini Mama dan Papa sudah mulai mendapatkan jawaban tentang apa gaya cinta dari masing-masing, dan juga si Kecil. Namun, sudahkah Mama dan Papa mengenal gaya kelekatan?
Bagi banyak orang, gaya kelekatan masih menjadi sesuatu yang sangat asing. Padahal, menurut Dono Baswardono yang merupakan terapis keluarga dan pernikahan menyebutkan bahwa ekspresi bahasa cinta hanyalah akibat dari gaya kelekatan yg berkembang sejak kecil ketika kebutuhan-kebutuhan dasar psikologis terpenuhi oleh orangtua secara konsisten atau tidak.
Sudah mulai penasaran dengan apa itu gaya kelekatan (attachment style)? Bersama Popmama.com, mari mengenal gaya kelekatan, hal yang lebih penting dibanding bahasa cinta. Pengetahuan baru, yang wajib diikuti hingga akhir.
Lima Jenis Bahasa Cinta
Freepik/Prostooleh
Dalam bukunya yang berjudul The Five Love Languages: The Secrets to Love That Lasts, Gary Chapman mendeskripsikan kelimat jenis bahasa cinta yang masih populer hingga kini. Yaitu kata-kata pujian (word of affirmation), waktu yang berkualitas (quality time), menerima atau memberi hadiah (receiving or giving gifts), tindakan pelayanan (acts of services), dan sentuhan fisik (physical touch).
Kelima jenis bahasa cinta ini sering dijadikan acuan bagaimana mengenal orang yang kita kasihi dalam mengekspresikan perasaan cinta mereka. Namun, mengutip dari Instagram.com/dr_dono menyebutkan bahwa banyak orang terpaku hingga meyakini bahwa bahasa cinta ini sesuatu yg menetap, dan akan terus dilakukan sepanjang hidup.
Anggapan yang semakin membuat salah kaprah adalah adanya keselarasan bahasa cinta antar pasangan. Efeknya hingga bisa membuat pasangan merasa bahwa tidak selarasnya bahasa cinta ini menjadi akar utama ketidakcocokkan mereka. Penting untuk dipahami pula, bahwa bahasa cinta bukanlah pondasi dalam sebuah hubungan, baik dengan pasangan, anak, kerabat, maupun rekan kerja.
Dono Baswardono juga menyebutkan bahwa yang terpenting bukanlah bahasa cinta antar pasangan itu sendiri, melainkan mengubah bahasa cinta menjadi gaya kelekatan menjadi secure (aman).
Editors' Pick
Apa yang Dimaksud dengan Gaya Kelekatan?
Pexels/Ketut Subiyanto
Gaya kelekatan (attachment style) berkaitan dengan kebutuhan dasar yang dibutuhkan anak saat kecil, yaitu rasa aman (secure) dan rasa dicintai dengan hormat (feeling loved with respect).
Disebut kebutuhan dasar, maka ini adalah hal yang penting untuk dipenuhi oleh orangtua sejak anak masih kecil. Karena, ini akan sangat memengaruhi hubungan yang akan dijalani saat dewasa.
Jika kedua kebutuhan tersebut dipenuhi, anak akan tumbuh dengan gaya kelekatan aman (secure). Jika tidak, anak akan tumbuh dengan gaya kelekatan tidak aman (insecure). Kedua gaya kelekatan ini pun memiliki ciri khas dan efeknya masing-masing.
Mengenal Gaya Kelekatan Aman dan Tidak Aman
Freepik
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa gaya kelekatan aman dan tidak aman memiliki ciri khas dan efeknya masing-masing. Gaya kelekatan insecure sendiri dibagi menjadi tiga jenis dan membuat Mama dan Papa bisa menanggulangi si Kecil masuk dan menjadi salah satunya. Yuk, kita bahas lebih lanjut.
Gaya kelekatan aman (secure) Jika anak tumbuh dengan gaya kelekatan secure, mereka akan belajar bahwa pikiran dan perasaannya adalah hal yang wajar, sah, bermanfaat dan bisa diterima. Anak tinggal mencari tahu, apa manfaat dari hal-hal yang dirasakan. Selain itu, akan muncul perasaan bahwa dirinya bisa diandalkan dalam menghadapi apapun dan aman dengan dirinya sendiri. Bukan karena mendapat perlindungan dari kedua orangtuanya, maupun sekitarnya. Orangtua dan anak yang tumbuh dengan gaya kelekatan secure, tentu akan mudah berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Gaya kelekatan tidak aman (insecure) Saat anak tumbuh dengan gaya kelekatan insecure, anak akan cenderung menyembunyikan dan menekan perasaannya sendiri karena takut mengganggu orang lain atau semata-mata agar ia diterima oleh lingkungannya. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjadi seperti apa yang orang lain harapkan.
3 Jenis Gaya Kelekatan Insecure
Freepik
Gaya kelekatan insecure ini sendiri dibagi menjadi tiga jenis, dan memiliki latar belakang kenapa bisa sampai muncul dan dimiliki oleh anak-anak. Apa saja? Yuk kita kenali satu demi satu
Anxious atau ambivalen. Biasanya, anak yang tumbuh dengan gaya kelekatan ini sering diabaikan saat kecil, hingga ia tumbuh sebagai sosok yang suka mencari perhatian dan haus akan kasih sayang. Saat mereka menunjukkan satu atau lebih dari bahasa cinta, biasanya ini menjadi cara mereka untuk mendapat lebih banyak kasih sayang dari lingkungannya. Akibatnya, lingkungan tempatnya tumbuh akan merasa seperti dituntut untuk membahagiakannya. Jika orangtua yang memiliki gaya kelekatan ini, akan berdampak juga kepada sang anak saat terus diminta memberikan emotional support, namun tak memiliki teladan untuk menjadi contoh.
Avoidant. Anak yang terbiasa menyembunyikan perasaannya akan tumbuh dengan gaya kelekatan avoidant. Gaya kelekatan ini biasanya akan lekat dengan bahasa cinta act of service, karena bisa menjadi alasan mereka untuk memberikan yang terbaik untuk orang terkasih dengan tetap menyembunyikan perasaannya. Namun, akan sangat sulit bagi mereka untuk mengucapkan kata-kata pujian penuh makna yang sarat emosi, karena hubungan emosional tidak akan nampak disana. Semua pun akan terkesan dangkal, dan tidak melibatkan perasaan.
Disorganized. Gaya kelekatan satu ini biasanya muncul karena orangtua yang menjadi sosok menakutkan untuk si Kecil. Akibatnya, anak akan melakukan apapun karena rasa takut dan akan terus dihantui oleh rasa takut. Mereka mungkin melakukan hal yang tak biasa dilakukan, hanya demi apa yang mereka takutkan tidak terjadi.
Adakah salah satu diantaranya sering tampak pada si Kecil?
Saatnya Mengubah Gaya Kelekatan Menjadi Lebih Secure
Freepik/master1305
Sama halnya dengan bahasa cinta, faktanya gaya kelekatan tidak terus menetap dan bisa berubah. Komitmen menjadi sesuatu yang penting dan dibutuhkan untuk mengubah gaya kelekatan yang sudah ada. Berikut beberapa tips yang diberikan Dono Baswardono.
Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu rasa aman dan dicintai dengan terhormat. Caranya, adalah dengan menjalani hidup dengan teratur serta terprediksi, melakukan sebanyak mungkin hal yang bisa dikontrol dan membiarkan hal yang tidak bisa dikontrol, serta belajar untuk berdialog dengan diri sendiri dan menerima pikiran-pikiran yang muncul dalam diri.
Mengembangkan kesadaran emosional dengan mengidentifikasi setiap emosi yang muncul, dan membiarkan diri merasakan seluruh emosi tersebut.
Menerima emosi yang dirasakan, baik atau buruk. Setelah itu, tetap berikan semangat kepada diri sendiri, seperti memberikan sugesti positif secara rutin setiap harinya.
Adanya ikatan emosional yang intim dan menjadi prioritas. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengungkapkan perasaan kepada orang lain, dan menerima respon mereka, mendengar cerita lawan bicara, serta mendahulukan untuk menerima perasaan masing-masing sebelum membantahnya.
Sayangi diri sendiri dengan sepenuh hati dan selalu memprioritaskan kebahagiaan diri sendiri
Seru ya Ma, mengenal ilmu baru yang bermanfaat untuk mengenali diri sendiri, pasangan, dan juga anak kita. Semoga ilmu ini bisa membantu membentuk karakter anak menjadi lebih baik demi masa depannya yang lebih cerah.