Pentingnya Peran Orangtua untuk Jaga Privasi Anak di Dunia Maya
Yuk Ma, orangtua perlu ikut mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender online
10 November 2020
Follow Popmama untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News
Nama Kalis Mardiasih yang merupakan seorang penulis opini dan aktivis muda Nahdatul’ Ulama mungkin sudah tak asing lagi di telinga Mama. Banyak karya tulisnya sebagai pemerhati isu gender yang menjadi viral dan menuai banyak pujian.
Salah satunya tentang Kekerasan Berbasis Gender Online: Anak Perempuanmu, Adikmu atau Kamu Bisa Jadi Korban. Karya tulisnya yang disebarkan di akun media sosialnya tersebut, membahas tentang bagaimana anak perempuan yang menjadi korban penyebaran video pornografi di dunia maya.
Selain itu, Kalis juga membahas tentang bagaimana tubuh perempuan yang diperdebatkan dari nilai-nilai ekonomi, politik, moral, serta normal sosialnya.
Dalam hal ini, peran orangtua sangatlah penting untuk mengedukasi serta menjaga privasi anak agar tidak terjerumus dalam pornografi di dunia maya.
Untuk mengetahui informasi tentang apa yang dibahas Kalis Mardiasih serta apa saja yang perlu orangtua lakukan, berikut Popmama.com berikan informasi privasi anak di dunia maya selengkapnya:
1. Para perempuan yang digambarkan cantik dan seksi yang "dijual" di media sosial
Dalam akun facebook nya, Kalis Mardiasih mengatakan bahwa di media sosial terdapat akun-akun penjual “komik strip” dengan konten intim, yang tokohnya adalah para perempuan yang digambarkan seksi dan dilecehkan secara seksual. Komik ini dijual hanya Rp.15.000 saja.
“Siapa pembelinya? Dari komentar-komentar yang ada, barangkali anak-anak seusia SD dan SMP. 15 ribu itu sangat murah. Cukup transer lewat gopay/ovo, lalu anak-anak remaja akan mendapatkan link khusus unyuk mendownload konten” tulis Kalis di facebooknya.
Selain itu, ia juga membahas tentang banyaknya konten intim yang beredar di twitter dan dijual secara terbuka, seperti konten rekaman vcs (videocall sex) yang dijual seharga Rp.50.000-Rp.100.000,-. Tak jarang, akun-akun tersebut menggunakan foto profil curian.
Editors' Pick
2. Konten intim ilegal menargetkan remaja perempuan yang belum memahami digital dengan baik
Menurut Kalis, kebanyakan konten intim non-konsensual tersebut adalah illegal content. Karena, “pengepul konten” menargetkan banyak remaja perempuan yang belum memahami digital dengan baik, serta memiliki ekonomi rendah sehingga membutuhkan uang.
Pelaku kemudian memaksa korban remaja perepuan untuk merekam video nudes mereka dengan durasi kurang lebih 10 menit, yang akan dibeli seharga Rp.100.000an. Karena termakan bujuk rayu, banyak korban remaja yang tidak penyadari konsekuensinya.
Tak hanya itu, banyaknya remaja perempuan yang hidup di perkampungan yang belum memahami literasi digital dengan baik. Sehingga menjadi korban manipulasi atau korban kekerasan seksual oleh pacarnya, yang bisa menjadi korban perekaman konten intim ilegal.