Risiko Hamil di Usia Remaja Bisa Membahayakan Mama dan Bayinya
26 September - Hari Kontrasepsi Sedunia. Ini dia alsan kenapa kamu harus merencanakan kehamilan
28 September 2018
Follow Popmama untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News
Tepat pada tanggal 26 september merupakan peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia. Sebagai Millennial Mama, apa sih yang seharusnya kita lakukan?
Merujuk pada arahan pemerintah mengenai Program Keluarga Berencana, dua anak itu cukup, maka sebagai orangtua kita perlu memiliki perencanaan tentang kapan waktu yang tepat untuk memiliki anak.
Kamu perlu menyampaikan apa yang menjadi harapan dan cita-cita kamu kepada pasanganmu termasuk soal karier, kapan memiliki anak dan tujuan hidup di masa mendatang.
Untuk mensosialisasikan peringatan Hari Kontrasepsi sedunia, pada 25 September 2018 DKT Indonesia, pioneer pemasaran kontrasepsi, mengadakan media gathering yang bertema, “Saatnya Millennials Terencana Sejak Muda!”
Pihaknya pun menyampaikan, "Kami bangga bisa berkontribusi hingga 18 persen angka prevelensi, melindungi lebih dari 8 juta pasangan Indonesia untuk tidak memiliki keturunan yang tidak direncanakan. Kami juga melakukan sosialisasi dan bekerja sama dengan BKKBN dan BKBI untuk mengkampanyekan kepada masyarakat luas.”
Pada acara tersebut juga dr. Uf Bagazi, SpOG dari RS. Brawijaya Antasari menjelaskan mengenai manfaat kesehatan reproduksi bagi pasangan muda ketika menggunakan kontrasepsi untuk mengatur masa kehamilan.
"Seorang perempuan dikatakan aman untuk hamil setelah berusia 24 tahun,” ungkap dr. Uf Bagazi, SpOG.
Bagaimana proses kehamilan terjadi?
Kenapa orang bisa hamil? Kehamilan terjadi karena adanya ovulasi.
Ovulasi terjadi setelah perempuan menstruasi, setelah menstruasi hormon-hormon sudah aktif dan bisa terjadi kehamilan.
Sementara umumnya perempuan mulai menstruasi di usia 12 tahun. Kehamilan biasanya terjadi 2 tahun setelah menstruasi, jadi bisa ditaksir pada usia 15 tahun seorang anak perempuan bisa saja hamil.
Akan tetapi, keadaan rahim masih sangat rentan jika terjadi kehamilan di usia remaja seperti itu. “Banyak risiko kesehatan, termasuk beban psikologi karena belum cukup umur, belum mengetahui kebutuhan gizi yang diperlukan dan juga rentan terjadinya infeksi jika hamil di usia belasan tahun atau di bawah 20 tahun,” kata dr. Uf Bagazi, SpOG.
Berikut Popmama.com bagikan informasi selengkapnya mengenai risiko kehamilan pada usia remaja:
Editors' Pick
1. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah dan kelainan bawaan
Prematur dapat terjadi dikarenakan kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap. Sementara itu berat badan lahir rendah terjadi karena gizi selama kehamilan tidak tercukupi.
Pada keadaan ibu hamil berusia di bawah 20 tahun biasanya pengetahuan tentang asupan gizi baik masih sangat rendah. Ibu hamil di usia remaja juga kurang memerhatikan kontrol kehamilan ke dokter secara rutin.
Mereka belum memahami apa bahayanya jika kehamilan tidak dirawat dengan baik.
"Berat bayi rendah itu jika berat badan bayi lahir di bawah 2,5 kg. Ini berhubungan dengan gizi ibu hamil. Biasanya disebabkan karena edukasi yang minim dan bukan kehamilan yang direncanakan,” kata dr. Uf Bagazi, SpOG.
2. Mudah terjadi infeksi
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stres memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada masa nifas.
Sebagai Millennial Mama, sebaiknya kamu sudah mempelajari kebutuhan gizi selama kehamilan. Selain itu, ketahui vitamin dan nutrisi lainnya yang dibutuhkan.